Ketahanan pangan sudah barang tentu menjadi keharusan sebuah Negara untuk menjaga kebutuhan pangan negerinya. Hanya saja bentuk atau strategi itu perlu difikirkan secara tepat. Ada beberapa hal yang pelu dibangun diantaranya dengan mengoptimalkan peran penyuluh pertanian untuk membimbing pertainian, menggerakkan peran kau intelektual muda. Mahasiswa juga dilibatkan dalam kegiatan penyuluhan dibantu instalasi terkait pemerintah. Karena mahasiswa dengan ilmu yang didapatkan dikampus bila diaplikasikan dilapangan.
Melakukan penyuluhan terhadap petani-petani yang membutuhkan informasi-informasi terbaru demi meningkatkan hasil pertaniannya dan juga untuk match kan antara teori kampus dengan di lapangan. Serta dukungan dari pemerintah terhadap sekolah kejuruan maupun fakultas pertanian. Pemerintah dan berbagai pihak mungkin dari media sebaiknya lebih menyegarkan kampanye cinta pertanian Indinesia terhadap generasi bangsa ini. Karena mirisnya Indonesia sebagai Negara agraris justru peminat di bidang pertanian semakin “sedikit”. Sebuah pertanyaan besar “mau dibawa siapa pertanian Indonesia nantinya ?”
Mengadopsi cara perkebunan yaitu dengan membangun Estate rice extensifikasi lahan untuk padi. Estate rice diharapkan mampu menjadi suplai cadangan bahan pangan , untuk mengurangi impor beras dari Thailand ataupun dari Vietnam. Seperti yang dicontohkan Malaysia yang sudah membangun Estate rice. Karena bias jadi Negara-negara pengekspor beras suatu saat mengalami masa paceklik dan ini ancaman bagi Negara kita jika selalu bergantung pada beras mereka.
Apakah mungkin suatu Negara mengekspor bahan pangannya kalau dalam negerinya sendiri pas-pasan bahan kekurangan. Untuk itu perlu pemikira kearah kedepan untuk antisipasi hal hal yang tidak diinginkan terjadi seperti kelaparan. Dan terobosan ini bias diikuti untuk tanaman lainnya yang menjadi kebutuhan Negara ini seperti jagung, ataupun sagu. Alih fungsi lahan padi menjadi perumahan. Perhatian pihak pemerintah daerah dalam perizinan penggunaan lahan, pada saat ini banyak lahan pertanian seperti pesawahan tidak lagi ditanami padi namun berubah menjadi bangunan kokoh permanen. Ironi sekali lahan penghasil produk pertanian di negeri ini semakin tahun kian berkurang. Padahal sawah tersebut bias mengurangi factor ketergantungan terhadap beras dari pemerintah meskipun luasan yang dimiliki petani tesebut hanya dalam skala kecil. Jika perlu dipertegas dengan UU yang mengatur pelarangan alih fungsi sawah menjadi bangunan. Dan bagi yang melanggar diberi sangsi atau denda.
Perlu adanya peran breeder sebagai penyedia benih-benih unggul sebagai salah satu langkah peningkatan produksi persatuan luasnya. Kembali jika kita merujuk pada masa lalu yaitu keberhasilan Revolusi Hijau mencukupi kebutuhan pangan dunia berkat peran breeder yang menemukan padi verietas unggul. Pola makan khas dan unik di berbagai belahan pulau yang ada di Indonesia : Gaplek (Lampung , Jawa Tengah, Jawa Timur), sagu (Maluku, Papua), Jagung (Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara), Cantel/Sorgum (Nusa Tenggara) sebagai makanan (pokok Staple food). Artinya setiap daerah mempunyai keunikan makan masing-masing tanpa harus berantung pada beras. Dan pola makan mereka janga dirubah.
Karena kondisi beras dalam negeri terbatas kecuali denga adanya ekstensifikasi seperti yang telah diulas diatas. Karena yang seperti kita alami “belum makan nasi belum makan”. Jangan sampai semua pelosok negeri ini pola makannya sama. Biarkan daerah-daerah yang sudah memiliki pola makan berbeda satu sama lain untuk tetap. Misalnya papua terkenal dengan papeda yang menjadi makanan pokok mereka.
sumber : Buletin KAMMI
by Kank A'am

Tidak ada komentar:
Posting Komentar