Tahun 1984 Indonesia mencapai swa sembada beras dan merubah citra dari Negara pengimpor terbesar di dunia menjadi Negara surplus beras. Disamping itu tercapai pula mantapnya peningkatan produksi dan produktivitas beberapa komoditi stategis lainya yang berasal dari komoditi non beras. Keberhasilan ini telah membawa dampak perbaikan terhadap pendapatan, kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya, terciptanya kesempatan kerja serta meningkatnya ekspor non migas. Demikian pula keberhasilan pembangunan sektor pertanian telah membawa dampak terhadap perubahan perilaku petani yang mulai beralih dari usaha tani subsisten ke usaha tani semi komersial dan dari usaha tradisional kearah usaha tani dengan teknologi yang lebih maju. Ringkasnya selama PJP 1 sektor pertanian telah memberikan peranan yang sangat besar bagi perekomonian nasional.
Sayangnya momentum keberhasilan tersebut tidak bisa dikatakan berlanjut atau sustain. Gelombang krisis yang dimulai tahun 1997 ternyata berdampak lebih besar pada pembangunan ekonomi. Sampai saat bangsa ini mengawali abad 21 sudah terlihat beragam tantangan yang harus dihadapi oleh sektor pertanian, seperti membanjirnya impor produk pertanian, produksi beras yang belum stabil, degradasi sumber daya alam dan lingkungan, melemahnya daya beli, kesenjangan produksi yang belum dapat teratasi dengan baik dan banyak lagi. Hampir semua mengatakan bahwa krisis dialami adalah akibat globalisasi.
Sektor pertanian menanggung beban semakin berat. Disamping harus mempertahankan keberhasilan yang sudah di capai dalam PJP 1, sektor ini bersama sama dengan sektor yang lain memasuki suatu dunia persaingan yang semakin ketat, tajam dan pengaruhnya begitu kuat terhadap kinerja nasional. Kompetisi regional semakin tajam. Produktivitas, efisiensi, kualitas dan distribusi tepat waktu sebagai ciri kompetitif merupakan jaminan yang terus menerus harus selalu meningkat. Produk – produk pertanian kita baik komoditi tanaman pangan ( holtikultura ), perikanan, perkebunan, peternakan menghadapi pasar dunia yang telah dikemas dengan kualitas tinggi dan memiliki standar tertentu. Tentu saja produk dengan mutu tinggi tersebut dihasilkan melalui sesuatu proses yang menggunakan muatan teknologi standar.
Gambaran diatas menunjukkan bahwa sektor pertanian akan tetap penting dalam perekomonian serta tetap berperan dalam pembangunan nasional. Terlebih jika wacana pembangunan yang terintegrasi antara pertanian, industry dan perdagangan dipandang sebagai suatu system entity yang utuh. Kaitan yang erat antara pertanian dan industri, dan lingkungan strategis senantiasa menuntut berkembangnya kebijakan pembangunan pertanian yang dinamis sejalan dengan transformasi perekomonian yang sedang terjadi. Dalam suasana lingkungan strategis yang berubah dengan cepat, penajaman arah kebijaksanaan dan perencanaan pembangunan pada masa reformasi menjadi demikian penting.
Perubahan orientasi atau wacana pembangunan pertanian di Indonesia telah banyak dibahas dalam berbagai kesempatan dan dokumen rencana pembangunan. Pada dasarnya ada keinginan untuk merubah arah pandangan pembangunan dari memproduksi bahan pertanian dalam bentuk primer atau on farm agribisnis , kepada arah pandangan industrialiasi pertanian atau pertanian berwawasan agribisnis. Beberapa ahli juga memberikan pendapat bahwa pertanian Indonesia harus dirubah kearah pertanian industri atau agroindustri yang berorientasi pada nilai tambah dan berkelanjutan. Pandangan tersebut setidak tidaknya dipengaruhi oleh perubahan paradigma ekonomi global atau globalisme yang berciri kompetitif dalam harga, kualitas, kontinuitas, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi sebagai pilar utama. Namun pada intinya adalah efisiensi dalam penggunaan teknologi, energy, sumber daya alam, dan kecermatan serta ketajaman dalam memanfaatkan dinamika pasar untuk memproduksi sesuatu secara rasional. Pada kedua pemikiran tersebut kelembagaan memegang peran yang penting dalam pengembangan pertanian.
by Kank A'am
by Kank A'am

Tidak ada komentar:
Posting Komentar